Evaluasi Kinerja Keuangan Pada Organisasi Sepakbola

Evaluasi Kinerja Keuangan Pada Organisasi Sepakbola (Futbol Club Barcelona)

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sepakbola merupakan cabang olahraga paling populer dan paling digemari di seluruh dunia. Pernyataan tersebut barangkali tidak terbantahkan, bahkan rasanya tidak diperlukan sebuah penelitian ilmiah untuk mendapatkan pengesahan atas pernyataan tersebut. Situs most-popular.net (2006, March 20) berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 2001 menyatakan bahwa sepakbola adalah olahraga paling populer dimainkan hari ini. Survei ini menunjukkan bahwa lebih dari 240 juta orang memainkan olahraga sepakbola di lebih dari 200 negara di hampir setiap bagian dari dunia. Natakusumah (2009) menyatakan bahwa saat pertama kali sepakbola modern digagas dan kemudian disebarluaskan oleh orang Inggris ke segala penjuru dunia, mungkin tak ada yang mengira kalau suatu saat nanti sepakbola akan menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan di dunia ini. Sepakbola mungkin hanya sebuah permainan, namun efek dari permainan tersebut telah jauh merasuk ke bidang-bidang lain seperti sosial keagamaan, teknologi informasi, hiburan, politik, dan bahkan ekonomi. Di antara aspek-aspek di atas, satu hal yang bisa kita lihat dengan nyata dan tidak bisa diabaikan pengaruhnya akhir-akhir ini adalah adalah aspek ekonomi dari sepakbola. Sebagai olahraga dengan peminat terbesar di seluruh dunia, tidak dapat dipungkiri bahwa sepakbola saat ini sudah menjadi ladang bisnis. Sepakbola telah tumbuh begitu pesat menjadi sebuah bisnis yang sangat menggiurkan, khususnya di liga Eropa. Penghasilan klub-klub sepakbola di liga-liga tersebut bukan hanya dari penjualan tiket pertandingan, namun yang lebih besar lagi adalah dari penjualan merchandise, hak siar televisi, sponsor dan bahkan penjualan pemain. Fanatisme yang menggelora dari sebuah sepakbola akirnya mengundang naluri bisnis untuk menghampirinya.
Fakta bahwa sepakbola begitu populer dan memiliki banyak penggemar, mendorong klub untuk mendapatkan pemasukan dari tiap penonton yang datang ke stadion melalui penjualan tiket. Popularitas sepakbola juga mengundang sponsor dan stasiun televisi untuk menghampiri. Berbagai perusahaan datang kepada klub dan menawarkan diri menjadi sponsor agar produknya makin dikenal melalui sepakbola sehingga penjualannya menjadi meningkat dan memberikan keuntungan buat perusahaan. Sementara itu stasiun televisi mencoba untuk ikut menangguk uang dengan menjual siaran sepakbola ke seluruh dunia melalui media televisi. Industri pers baik cetak maupun elektronik pun tak mau ketinggalan dengan menjadikan sepakbola sebagai bahan pemberitaan. Bahkan beberapa media mengkhususkan pemberitaan pada bidang olahraga, terutama sepakbola. Dari kondisi tersebut, terciptalah simbiosis yang menguntungkan antara klub, perusahaan sponsor, industri pers dan stasiun televisi. Fanatisme dan kepopuleran dari sepakbola juga mendorong klub mencium aroma bisnis baru di seputar sepakbola, yaitu penjualan merchandise (pernak-pernik), baik itu berupa berbagai perlengkapan olahraga seperti kaos pemain, bola, sepatu maupun berupa pernak-pernik lain seperti syal, tas, jam tangan dan berbagai produk merchandise lain. Fanatisme juga dimanfaatkan oleh klub untuk mengeruk pemasukan dari pariwisata, misalnya dengan menggelar paket tour ke stadion dan museum klub. Gambaran di atas menunjukkan betapa banyak dan bervariasinya sumber pemasukan pada sebuah klub sepakbola. Publik tentu sangat ingin mengetahui bagaimana sumber-sumber pemasukan tersebut dicatat dan dilaporkan oleh klub-klub tersebut. Kepopuleran sepakbola ternyata membawa dampak bagi kepopuleran para pemainnya. Seorang pemain sepakbola kadang-kadang justru lebih populer dibanding seorang presiden atau perdana menteri sekalipun. Kepopuleran seorang pemain akhirnya berdampak ekonomi, karena popularitasnya bisa ikut mendorong penjualan merchandise dan penjualan pertandingan suatu klub di televisi. Hal tersebut menjadikan pemain sepakbola sebagai aset yang sangat berharga, sehingga akhirnya jual beli seorang pemain sepakbola seringkali terjadi dan melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Sebuah klub sekarang ini membeli pemain bukan hanya didasarkan semata pada kualitas permainan dari pemain tersebut, namun juga didasarkan pada kepopulerannya. Hal inilah yang dilakukan Real Madrid ketika membeli David Beckham maupun Cristiano Ronaldo dari Manchester United. Bermain sepakbola dan kemudian menjadi seorang pemain sepakbola profesional saat ini sudah merupakan sebuah profesi, bukan lagi sekedar sarana untuk berolahraga.
Selain pemain sepakbola, berbagai profesi lain juga turut terlibat dan menikmati uang dari sebuah industri sepakbola. Profesi tersebut di antaranya adalah pelatih, wasit, ofisial pertandingan, komentator, agen pemain, pemandu bakat, wartawan olahraga, akuntan, dokter dan masih banyak lagi. Beberapa profesi yang terlibat dalam industri sepakbola bahkan mungkin tidak pernah terlintas dalam benak beberapa orang. Profesi tersebut di antaranya adalah ahli massage (tukang pijat) dan bandar judi, bahkan mafia pengatur hasil pertandingan.
Di benua Eropa, terutama liga-liga utama seperti Liga Inggris, Liga Italia dan Liga Spanyol, sepakbola merupakan bagian dari industri sehingga dikelola secara profesional dan dikemas sedemikian rupa untuk dijual ke seluruh belahan dunia. Achmad (2010) menyebut bahwa beberapa klub sepakbola di Eropa dikelola oleh sebuah badan usaha dan bahkan beberapa dari mereka juga mencatatkan dirinya di bursa saham untuk menarik dana investor. Di Inggris, sedikitnya terdapat belasan klub yang sahamnya telah 'melantai' di bursa. Di Italia, saham Juventus, AS Roma, dan Lazio bersaing dengan saham-saham rumah mode seperti Armani ataupun Coco Channel. Di Bursa Frankfurt Jerman, terdapat saham Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund yang diperdagangkan. Di Belanda, terdapat saham Ajax Amsterdam. Para pebisnis tentu akan tergiur kala mengetahui hitung-hitungan nilai uang yang bisa mereka raup dari sepakbola. Makanya tak mengherankan bila para milyuner dunia beramai-ramai terjun menjadi pemilik klub sepakbola di Eropa, seperti Roman Abramovich, milyuner Rusia yang menjadi pemilik Chelsea dan mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra yang pernah menjadi pemilik Manchester City. Berita yang mungkin cukup membuat heboh barangkali adalah rencana George Soros yang juga akan ikut-ikutan terjun ke bisnis sepakbola dengan mengambil alih kepemilikan klub papan atas Italia, AS Roma. Sebagian dari mereka melakukan itu didasari oleh kecintaan pada olahraga sepakbola, namun sebagian yang lain pasti didasari oleh kepentingan bisnis. Selain itu, sebagai sebuah bagian dari perekonomian, sepakbola juga tidak terlepas dari skandal ekonomi seperti pencucian uang. Situs www.guardian.co.uk tanggal 1 Juli 2009 memberitakan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebut dalam laporannya bahwa olahraga paling populer di dunia sangat menarik bagi kegiatan "criminals with its huge cross-border money transfers and often obscure accounting methods". OECD's Financial Action Task Force (FATF) menyebut bahwa klub sepakbola sudah dilihat oleh para pelaku kriminal sebagai alat yang sempurna untuk melakukan pencucian uang. Begitu bebasnya kepemilikan atas klub sepakbola, ternyata juga memunculkan masalah baru, yaitu utang. Hal ini banyak terjadi di Liga Inggris. Situs www.surya.co.id tanggal 22 April 2009 memberitakan bahwa jumlah utang klub sepakbola Inggris yang luar biasa besar sempat membuat cemas politisi mereka. Sebuah komite Parlemen Inggris menegaskan bahwa tingkat utang klub Inggris menimbulkan keprihatinan besar. Komite ini menganjurkan agar pembelian klub oleh pihak luar harus dicegah jika ternyata mengancam keuangan klub pada jangka panjang.
Masalah lain yang muncul dari arena bisnis sepakbola adalah adanya skandal pemalsuan laporan keuangan. Situs www.beritabola.com tanggal 21 Juni 2007 memberitakan bahwa klub AC Milan dan Inter Milan adalah klub yang pernah tersangkut masalah pemalsuan laporan keuangan. Kedua klub tersebut pernah diselidiki dengan tuduhan pemalsuan laporan keuangan klub tahun 2003 dan 2005. Fakta bahwa di Eropa sepakbola sudah menjadi bagian dari industri yang berkembang pesat ditambah dengan kasus pemalsuan laporan keuangan di atas serta tidak lepasnya sebuah klub dari kondisi keuangan yang tidak sehat membuat publik jadi ingin mengetahui lebih jauh tentang aktivitas bisnis beserta pelaporan keuangan dari beberapa klub di Eropa yang berlaku sebagai entitas bisnis. Publik menjadi sangat ingin tahu bagaimana sebetulnya selama ini klub-klub sepakbola. Eropa menyajikan laporan keuangan sebagai gambaran dari transaksi ekonominya, terutama untuk klub-klub yang mencatatkan dirinya di bursa saham (go public) mengingat seperti layaknya perusahaan lain yang go public, klub tersebut biasanya juga diwajibkan oleh regulator untuk mempublikasikan laporan keuangannya kepada publik. Sementara itu, pada tahun 2008-2009 ketika dunia dan termasuk benua Eropa sedang dilanda krisis ekonomi, dunia sepakbola dikejutkan dengan mega transfer pemain sepakbola yang terjadi pada pertengahan tahun 2009 yang dilakukan oleh klub Real Madrid. Disebut mega transfer karena transfer tersebut melibatkan jumlah uang yang sangat besar, yaitu pembelian Cristiano Ronaldo dari klub Manchester United oleh klub Real Madrid senilai kurang lebih 80 juta poundsterling atau sekitar Rp1,3 trilyun. Kejadian tersebut seperti membuka mata banyak pihak bahwa pemain sepakbola merupakan aset yang sangat berharga bagi sebuah klub sehingga sebuah klub rela untuk mengeluarkan uang banyak untuk memperoleh pemain yang diinginkannya. Pemain sepakbola, selain bisa menentukan dari sisi prestasi, ternyata juga diharapkan mampu untuk mendongkrak pendapatan klub. Penjualan pemain sepakbola ternyata juga bisa memberikan keuntungan yang sangat besar. Pada kasus di atas, Manchester United bisa dikatakan mendapatkan untung besar karena ketika Cristiano Ronaldo dibeli dari klub Sporting Lisbon sekitar 5 tahun sebelumnya, Manchester United "hanya" perlu mengeluarkan uang sebesar kurang lebih 12 juta poundsterling.

B. Perumusan Masalah

Mengacu pada uraian permasalahan di atas, maka perumusan permasalahan-permasalah pokok yang akan dibahas lebih lanjut secara terperinci dalam paper ini, yaitu:

1) Apa saja sumber income pada klub FC Barcelona? Bagaimana klub tersebut melaporkan sumber-sumber income tersebut? Sumber income manakah yang diandalkan FC Barcelona?
2) Apa saja beban operasi dan beban lain yang ada pada FC Barcelona? Bagaimana beban-beban itu dilaporkan oleh klub tersebut? Apa beban yang paling dominan yang menguras sumber daya klub?
3) Bagaimana kinerja keuangan klub FC Barcelona jika dilihat dari angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan?

C. Tujuan paper

Dengan mengacu pada uraian latar belakang dan perumusan masalah tersebut, tujuan paper ini adalah memberikan gambaran sekilas mengenai kondisi keuangan klub FC Barcelona berdasarkan angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

2. LANDASAN TEORI

Kieso, Weygandt dan Warfield (2008) menjelaskan bahwa dalam mengevaluasi data laporan keuangan, dapat digunakan berbagai alat, misalnya analisis rasio, analisis komparatif, analisis prosentase dan pemeriksaaan atas data yang berhubungan. Salah satu yang sering digunakan adalah analisis rasio. Kieso, Weygandt dan Warfield (2008) menjelaskan terdapat beberapa tipe utama dari analisis rasio, yaitu:

a) Liqudity ratio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam jangka pendek untuk membayar hutang yang jatuh tempo
b) Activity ratio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam menggunakan assets yang dimiliki
c) Profitability ratio untuk mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan atas sebuah divisi atau perusahaan untuk waktu tertentu
d) Coverage ratio untuk mengukur tingkat proteksi terhadap investor dan kreditor jangka panjang.

Beberapa jenis rasio dan formula untuk menghitung rasio-rasio tersebut dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
a)    Liquidty Ratio
Current Ratio = Current Assets : Current Liabilities
Quick Test Ratio = Cash, Marketable Securitas, Dan Net Receivable : Current Liabilities
Current Cash Debt Coverage Ratio = Net Cash Provided By Operating Activities : Average Current Liabilities
b) Activity Ratio
Receivable Turnover = Net Sales :Average Trade Receivable
Inventory Turnover = COGS : Average Inventory
Assets Turnover = Net Sales : Average Total Assets
c) Profitability Ratio
Profit Margin On Sales = Net Income : Net Sales
Rate Of Return To Assets = Net Income : Average Total Assets
d) Coverage Ratio
Debt To Total Assets Ratio = Total Liabilities/Debt : Total Assets
Cash Debt Coverage Ratio = Net Cash Provided By Operating Activities : Total Liabilities/Debt

3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 

Pada tulisan ini, evaluasi dilakukan terhadap klub sepak bola dari Spanyol yaitu FC. Barcelona sebagai sebuah klub sepakbola dalam sebuah industri. Dari data yang tersedia dan berhasil diperoleh menunjukkan bahwa terdapat kondisi yang tidak memungkinkan untuk melihat sebuah klub sepakbola sebagai sebuah perusahaan atau entitas yang benar-benar hanya mengelola sepakbola profesional. Sebagai gambaran, meskipun namanya Futbol Club Barcelona, namun klub ini sebetulnya juga mengelola berbagai cabang olahraga lain, seperti bola basket, bola tangan, dan lain-lain. Hanya saja pengelolaan untuk olahraga sepakbola memang lebih dominan dibanding olahraga yang lain. Dalam hal kebijakan akuntasi, Barcelona menyatakan bahwa laporan keuangan Barcelona disusun sesuai dengan Spanish National Chart of Accounts yang diadaptasi untuk sports corporations. The Spanish Sports Act, of 15 October 1990 menyatakan bahwa klub yang berpartisipasi dalam kompetisi olahraga profesional harus mengambil bentuk sebagai Sports Corporation
Berbeda dengan klub-klub di Eropa pada umumnya yang berstatus perusahaan publik yang tercatat di bursa saham, Barcelona bukanlah perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya di bursa manapun. Barcelona tidak dimiliki oleh perseorangan ataupun grup bisnis tertentu namun dimiliki oleh para anggota (socis/socios/members). Berdasar data pada situs resmi klub, Barcelona memiliki lebih dari 172.938 anggota yang masing-masing membayar sejumlah tertentu setiap tahunnya untuk mendapatkan hak-hak tertentu. Para anggota klub mengatur klubnya dengan memilih presiden klub setiap 4 tahun. Secara random, beberapa anggota dipilih untuk ditugaskan sebagai delegasi ke General Assembly yang menyetujui anggaran tahunan klub. Tidak seperti umumnya banyak perusahaaan yang mengakhiri periode akuntansinya pada tanggal 31 Desember, FC. Barcelona mengakhiri periode akuntansinya pada tanggal 30 Juni. Hal ini tidak terlepas dari siklus bisnis dari sebuah klub sepakbola. Seperti diketahui bahwa waktu bergulirnya liga-liga di Eropa diatur oleh UEFA karena disesuaikan dengan kalender kegiatan UEFA dan FIFA. Liga Eropa biasanya dimulai pada sekitar bulan Agustus- September dan berakhir pada sekitar bulan Mei tahun berikutnya.

a. Evaluasi atas Income Statement Pada Laporan Keuangan FC. Barcelona

a.1. Evaluasi atas komponen Income Dalam penyajian Income Statement, Barcelona menyajikan pendapatan secara total dengan nama Service Providing Revenue. Service Providing Revenue Barcelona berasal dari berbagai sumber, yaitu penghasilan dari kompetisi, penghasilan dari anggota, penghasilan dari pemegang tiket musiman (terusan), penghasilan dari hak siar televisi serta penghasilan dari pemasaran dan iklan. Pada periode 2008/2009, Barcelona melaporkan Service Providing Revenue sebesar €343,033,000.

Service Providing Revenue:
Income from competitions Football     44,011,000
Income from competitions Other (basketball, handball, hockey, other)     1,497,000
Income from members     17,704,000
Income from season ticket-holders     32,291,000
Income from televised broadcasting and rights     135,573,000
Marketing and advertising income     111,957,000
                                                         343,033,000

Pendapatan-pendapatan di atas merupakan sumber utama income klub. Sementara itu sumber-sumber income yang lain adalah dari operasional museum dan dari keuntungan penjualan non-current asset.
Data Proporsi Sumber-sumber Income pada Futbol Club Barcelona Untuk periode 2008/2009.
Berdasarkan data di atas tampak bahwa dua sumber income utama Barcelona adalah dari hak siar dan sponsor, yaitu masing-masing memberi sumbangan sebesar kurang lebih 35% dan 29%. Hal ini tidak lepas dari pencapaian klub tersebut sebagai juara UEFA Champions League pada musim kompetisi 2008/2009. Pendapatan dari hak siar ini, baik untuk kompetisi domestik maupun Eropa biasanya sangat tergantung dengan banyaknya jumlah pertandingan yang disiarkan secara langsung. Untuk kompetisi domestik tidak bisa dipungkiri bahwa klub-klub besar dengan jumlah penggemar yang banyak di seluruh dunia, biasanya mendapatkan porsi yang lebih banyak, karena jumlah pertandingan yang disiarkan secara langsung juga lebih banyak.
Ketenaran, baik itu karena prestasi maupun karena terdapatnya pemain tertentu sangat berpengaruh dalam hal ini. Sementara itu, untuk kompetisi Eropa, jumlah hak siar yang diperoleh juga dipengaruhi faktor sering tidaknya pertandingan klub tersebut disiarkan secara langsung. Sering tidaknya pertandingan sebuah klub disiarkan secara langsung selain juga dipengaruhi faktor ketenaran klub, biasanya juga berbanding lurus dengan pencapaian klub tersebut di kompetisi yang diikuti. Semakin jauh klub tersebut melangkah dalam kompetisi tersebut, maka akan semakin sering pula pertandingannya akan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi. Selain itu, agar sebuah klub Eropa bisa mengikuti kompetisi Eropa seperti UEFA Champions League dan UEFA Europa League juga sangat ditentukan dengan prestasi di kompetisi domestik. Sebagai contoh, untuk Liga Inggris, Liga Italia dan Liga Spanyol, hanya 4 peringkat terbaik dalam kompetisi domestik saja yang dapat mengikuti UEFA Champions League. Berdasar kondisi tersebut sangat jelas bahwa pendapatan sebuah klub akan sangat dipengaruhi oleh prestasi dari klub tersebut.  a.2. Evaluasi atas komponen beban Sebuah perusahaan yang mampu memperoleh penghasilan atau pendapatan yang besar kadang tidak mampu untuk membukukan laba. Hal ini bisa terjadi jika perusahaan tersebut gagal dalam mengelola beban perusahaan. Oleh karena itu analisis atas penghasilan klub-klub sepakbola juga akan diikuti dengan analisis terhadap sumber-sumber beban untuk mengetahui ke manakah sumber daya perusahaan banyak terpakai. Data Proporsi Sumber-sumber Expense pada Futbol Club Barcelona Untuk periode 2008/2009.
Berdasarkan data di atas, tampak bahwa beban gaji baik untuk staff maupun pemain mencapai lebih dari setengah dari seluruh beban yang dilaporkan klub tersebut. Pada klub Barcelona, beban gaji pemain mengambil proporsi sebesar 45.64% dari total expense klub. Detiksport.com (2009, 31 Maret) melansir berita mengenai daftar 10 pemain sepakbola dengan gaji tertinggi pada tahun 2009, dan dalam daftar tersebut terdapat 2 pemain Barcelona, yaitu Lionel Messi dan Thierry Henry yang masing-masing berada pada peringkat kedua dan kelima. Sementara itu daftar 50 pemain bergaji tertinggi di dunia musim 2009/2010 yang dikeluarkan oleh futebolfinance.com (2010, February 15) menunjukkan fakta bahwa terdapat 8 pemain Barcelona dalam daftar tersebut. Selain itu sampai dengan peringkat ke 15, terdapat nama 5 pemain Barcelona.
b. Evaluasi komponen aktiva pada Laporan Keuangan FC. Barcelona
Aktiva merupakan sumber daya yang dimiliki dan dikendalikan oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses memperoleh pendapatan. Pembicaraan mengenai aktiva pada sebuah klub sepakbola pasti tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan tentang apakah pemain sepakbola harus diakui, dicatat dan laporkan sebagai aktiva oleh klub pemiliknya. Namun sebelum melakukan analisa lebih jauh mengenai pemain sepakbola sebagai salah satu aktiva yang dimiliki sebuah klub sepakbola, analisa terhadap keseluruhan aktiva yang dimiliki oleh sebuah klub sepakbola juga perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai apa saja aktiva yang biasa dimiliki oleh sebuah klub sepakbola serta bagaimana komposisi aktiva tersebut disbanding keseluruhan aktiva perusahaan.
Data Proporsi Komponen Assets pada FC. Barcelona Untuk Periode 2008/2009.
Barcelona dalam laporan keuangannya membagi aktiva ke dalam non-current assets dan current assets. Berdasarkan data tersebut di atas menunjukkan bahwa Intangible Assets berupa pemain {Sporting Intangible Assets) merupakan komponen yang paling dominan, yaitu sekitar 24,09% dari total aktiva Barcelona. Namun komponen yang memiliki proporsi paling besar justru adalah Trade and Other Receivable dengan proporsi sekitar 25% dari total aktiva. Salah satu piutang dalam jumlah besar adalah piutang kepada pihak-pihak sehubungan dengan kontrak eksklusif dan hak siar televisi.
c. Evaluasi Kinerja berdasar Rasio Keuangan
Kinerja sebuah prusahaan dapat dilihat berdasarkan angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Berbagai rasio dikembangkan untuk mengevaluasi kinerja sebuah perusahaan. Berdasarkan data yang tersedia pada laporan keuangan FC. Barcelona, jika angka-angka tersebut dimasukkan dalam berbagai formula untuk mengukur rasio keuangan, maka rasio keuangan FC Barcelona dapat diikhtisarkan sebagaimana terlihat pada Tabel dibawah ini.  Rasio Keuangan FC. Barcelona Untuk Periode 2008/2009




Rasio Keuangan

Liquidity



Current Ratio

0.44

Quick Test Ratio

0.39

Profitability



Profit Margin On Sales

0.02

Return on Assets

0.01

Coverage



Debt to Total Assets Ratio

96%
Berdasar data pada Tabel tersebut, tampak bahwa dari sisi likuiditas, current ratio Barcelona yang berada di angka 0,44 menunjukkan kemampuan yang kurang baik dari current assets dalam menutup current liabilities. Dari sisi profitabilitas, berdasarkan rasio Profit Margin On Sales tampak bahwa FC. Barcelona hanya mencapai 0.02. Hal ini tidak terlepas dari kecilnya laba yang dibukukan oleh Barcelona pada periode tersebut, yaitu hanya sebesar €6,652,000. Hal yang sama juga tampak jika profitabilitas diukur dengan menggunakan rasio Return on Assets. Kemampuan Barcelona dalam memanfaatkan aktiva yang dimilikinya untuk memperoleh laba tampak kurang baik. Sementara itu, dari sisi coverage, nilai debt to total assets ratio milik Barcelona begitu besar, yaitu sebesar 96%. Ini menunjukkan bahwa mayoritas aktiva perusahaan diperoleh dari berhutang.
Sebagai sebuah entitas bisnis, klub sepakbola juga dihadapkan pada kondisi keuangan yang sulit dan kinerja yang buruk. Berdasarkan evaluasi secara sekilas terhadap angka-angka yang tersaji dalam laporan keuangan, dapat diketahui bahwa secara umum FC. Barcelona berkinerja baik, namun perlu diperhatikan kemampuan klub dalam meng-cover hutang.

4. KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagai sebuah entitas bisnis, klub sepakbola juga dihadapkan pada kondisi keuangan yang sulit dan kinerja yang buruk. Berdasarkan evaluasi secara sekilas terhadap angka-angka yang tersaji dalam laporan keuangan, dapat diketahui bahwa secara umum FC. Barcelona berkinerja baik, namun perlu diperhatikan kemampuan klub dalam meng-cover hutang.

Daftarkan email mu disini untuk mengikuti update KabarPajak:

0 Response to "Evaluasi Kinerja Keuangan Pada Organisasi Sepakbola"

Post a Comment