Yang Ikut TA=pengemplang pajak?


Yang Ikut TA=pengemplang pajak?
Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Tidak ikut TA=sudah taat pajak? Belum tentu juga.
Secara konsep TA memang adalah pengampunan pajak. Tentu yang perlu pengampunan adalah yang pernah 'bersalah'. Kalau tidak pernah salah, kalau suci, tentu tidak perlu pengampunan.
Namun dalam teknis pelaksanaan tidak seratus persen demikian. Dalam UU TA sendiri juga ada mencakup yang sesungguhnya tidak salah dalam perpajakan tetapi menjadi objek TA. Misalnya harta warisan. Menurut UU PPH, warisan bukan objek pph, namun jika mau, seseorang boleh melaporkan warisan sebagai objek TA. Dalam kasus ini jelas peserta TA ini bukan pengemplang pajak.
Sebaliknya yang tidak ikut TA tidak juga dapat dipastikan sudah taat pajak. Mengingat TA merupakan hak, bukan kewajiban, maka seorang pengemplang pajak paling besar pun tidak wajib ikut TA. Sehingga juga jelas bahwa yang tidak ikut TA bukan berarti sudah benar dan suci.
Lalu kenapa ada orang yang berargumen bahwa yang ikut TA adalah pengemplang pajak? Memang ada benarnya juga. Menurut saya, yang ikut TA bisa dikelompokkan tiga. Pertama kelompok pencari security. Kasus harta warisan tadi termasuk disini. Mereka sesungguhnya tidak ada, atau tidak signifikan, kesalahan perpajakan di masa lalu nya. Namun mereka ikut TA untuk mendapatkan keamanan, kepastian tentang status pajak nya dari tahun 1983-2016. Karena dengan ikut TA, UU menjamin tidak akan dilakukan pemeriksaan pajak lagi.
Kelompok kedua adalah yang memang ada ketidaktaatan atas kewajiban perpajakan nya. Namun ketidaktaatan itu lebih karena kurang tahu tentang ketentuan pajak, atau kerumitan ketentuan dan sistem pajak, atau karena mekanisme pemungutan dan pengawasan pajak nya terlalu longgar. Saya tidak punya data yang valid, namun terkaan saya, kelompok dua ini yang paling banyak. Disini termasuk pengusaha UKM yang tidak melaporkan seluruh penghasilan sebagai objek pph. Orang pribadi pemilik kost atau apartemen. Pekerjaan bebas seperti dokter, pengacara, arsitek, artis, atlit, dll. Atau juga petani, nelayan, peternak, dll.
Kemudian kelompok ketiga adalah 'pengemplang pajak'. Mereka ini adalah orang pribadi atau badan (perusahaan) yang jelas mempunyai kemampuan untuk memahami ketentuan pajak dan mematuhi nya. Namun secara sadar dan terencana melakukan penghindaran pajak. Kelompok ini tidak banyak, tapi nominal pajak nya sangat signifikan. Mereka bahkan punya unit khusus untuk melakukan penghindaran pajak.
Kemudian apa argumen orang yang bilang tidak ikut TA karena sudah taat pajak? Hati2, karena ketentuan peraturan pajak sangat rumit. Sangat sulit dan bisa butuh biaya besar untuk memastikan seratus persen sudah mengikuti ketentuan pajak. Bukan hanya material tapi formal juga. Analogi nya adakah manusia yang tidak berdosa sama sekali? Sekalipun tidak pernah salah? So jangan terlalu yakin bahwa anda sudah taat pajak.
Perlu juga dipahami bahwa program TA ini adalah program nasional yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan. Jujur bahwa pemerintah, bukan hanya di Indonesia tetapi seluruh dunia, tidak memiliki kemampuan untuk memungut pajak dengan sempurna. Semakin canggih ketentuan dan sistem pajak dibangun, semakin canggih pula teknik penghindaran pajak dilakukan. Anda bisa tebak dengan mudah siapa yang lebih cepat berinovasi, otoritas pajak atau pengemplang pajak?
Maka program TA diluncurkan sebagai jalan tengah. Benar bahwa ada pengemplang pajak yang diuntungkan. Tapi dia sudah bayar tebusan. Dibandingkan tanpa TA, mungkin pajak yang dia sembunyikan tidak akan pernah terungkap. Ke depan data dari TA akan menjadi basis bagi pemungutan pajak yang lebih baik dan lebih adil. Tentu belum akan sempurna juga. Jadi stop saling tuding. Anda cukup pahami, lalu buat penilaian sendiri dalam hati.
Salam ungkap, tebus, lega.

Daftarkan email mu disini untuk mengikuti update KabarPajak:

0 Response to "Yang Ikut TA=pengemplang pajak?"

Post a Comment